Topics :

Latest Post

207 Pengaruh Bermain Peran (Role Playing) dalam Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Inggris

Written By Himaprodi S1 PGSD on Jumat, 25 Mei 2012 | 07.59

Seorang anak bermain peran menjadi dokter

Oleh Nani Shofiatun, S.Pd.
Salah satu tugas guru adalah membantu anak didik untuk bisa berlaku sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain. Berbagai bentuk permainan, cerita-cerita sejarah, biografi maupun cerita-cerita yang lain dapat membantu anak didik untuk mencapai keterampilan tersebut.
Bercerita tentang apa yang dirasakan orang lain kadang-kadang ada manfaatnya. Guru yang telah berhasil menggunakan sosiodrama akan beranggapan bahwa metode tersebut lebih baik dibanding metode-metode yang lain.
Role playing atau disebut juga dengan istilah sosiodrama adalah permainan yang dilakukan oleh anak didik tentang satu situasi. Kegiatan tersebut biasanya spontan tanpa dipersiapkan atau dilatih terlebih dahulu. Kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa menggunakan kostum atau naskah cerita tertentu. Latar belakang dari sesuatu situasi didiskusikan dan kemudian bagian-bagian yang ada diseleksi. Biasanya anak didik memilih di antara beberapa topik yang diberikan kepada mereka. Naskah pendek yang dibawakan biasanya sudah mengandung situasi permasalahan. Dan sesudah sosiodrama berlangsung masing-masing individu mendiskusikan bagaimana perasaan-perasaan mereka.
Main peran disebut juga main simbolik, pura-pura, make-believe, fantasi, imajinasi, atau main drama, sangat penting untuk perkembangan kognisi, sosial, dan emosi anak pada usia tiga sampai enam tahun (Vygotzky, 1967; Erikson, 1963).
Metode role playing (bermain peranan) pada pengajaran yang direncanakan secara baik, dapat menanamkan pengertian peranan orang lain pada kehidupan bermasyarakat, menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain, menghargai pendapat dan kemampuan orang lain, dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok.
Keuntungan penggunaan role playing menurut Cheppy H.C. (1980:124-125) yaitu:
  1. Membantu anak didik untuk berlaku, berpikir dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
  2. Menggambarkan situasi hubungan antarmanusia secara realistis.
  3. Dapat mengungkapkan sejarah kehidupan untuk anak didik.
  4. Mengembangkan daya imajinasi anak didik.
  5. Memperkaya hal-hal baru dalam belajar mengajar.
  6. Menumbuhkan perasaan dan emosi dalam belajar.
  7. Memberanikan anak didik berhubungan dengan masalah-masalah kontroversial dengan cara yang realistis.
  8. Berguna untuk mengubah sikap.
Sedangkan kelebihan dan kekurangan metode sosiodrama atau role playing menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006:89-90), adalah sebagai berikut:

  • Kelebihan metode role playing
  1. Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
  2. Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu main drama para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
  3. Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah. Jika seni drama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain yang baik kelak.
  4. Kerja sama antarpemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
  5. Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.
  6. Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain.
  • Kelemahan metode role playing
  1. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif.
  2. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukan.
  3. Memerlukan tempat yang cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang bebas.
  4. Sering kelas lain terganggu oleh suara pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan, dan sebagainya.
Untuk dapat menerapkan metode role playing (bermain peranan) pada pengajaran secara baik dan terarah, guru harus menjelaskan dulu teknik metode ini secara jelas kepada siswa yang akan melaksanakannya. Selanjutnya guru memilih dan menentukan topik atau pokok bahasan yang komprehensif yang dapat didramatisasikan. Melalui latihan yang baik dan teratur, pokok bahasan ini dapat dilakonkan di muka kelas. Dengan cara ini, minat dan perhatian murid terhadap pelajaran yang terlalu kaku dan menjemukan, dapat disegarkan kembali melalui metode ini. Sosiodrama yang menyakinkan, dapat membangkitkan minat anak didik kepada pengajaran secara keseluruhan. Untuk meningkatkan kognisi dan psikomotor murid-murid melalui metode sosiodrama dan bermain peranan ini, setelah dramatisasi itu dilaksanakan, guru mengadakan diskusi dengan murid secara keseluruhan tentang topik dan pelaksanaan drama tadi. Dengan demikian, kognisi dan psikomotor murid secara keseluruhan dapat pula ditingkatkan melalui bimbingan drama tersebut. Jadi, dramatisasi dan permainan peranan itu menjadi lebih bermakna sebagai suatu metode interaksi edukatif yang lebih terpadu. Pada kesempatan ini, guru dan murid tetap melakukan pembinaan konsep dan pengembangan generalisasi sampai kepada menarik kesimpulan-kesimpulan tentang role playing (bermain peranan) tadi.

Adapun petunjuk dalam pelaksanaan role playing menurut Cheppy H.C. (tanpa tahun:126), antara lain:
  1. Berikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih peranannya sendiri. Mereka akan memerankannya dengan lebih baik apabila mereka sendiri yang memilih bagiannya. Apa yang telah dipilih barangkali mempunyai arti tersendiri bagi dirinya.
  2. Di dalam melaksanakan kegiatan sosiodrama yang pertama kali sebaiknya guru juga mengambil sesuatu peran. Tindakan ini bisa menambah kegairahan anak untuk bermain peranan (role playing).
  3. Diskusikan terlebih dahulu situasi yang akan dimainkan, tetapi jangan sampai membatasi anak didik tentang apa yang akan diutarakan dan bagaimana mereka menghayati perannya. Biarkan anak didik menentukan sendiri.
  4. Usahakan situasi benar-benar jelas dan terang.
  5. Diskusikan pelaksanaan sosiodrama tersebut. Diskusi bisa dimulai dari aktor atau aktris itu sendiri, bagaimana perasaan mereka setelah bermain.
  6. Ulangi situasi tersebut, baik dengan bercerita yang sama maupun tidak.
  7. Upayakan agar semua pihak bisa mengambil peranan.
Untuk meningkatkan kognisi dan psikomotor murid-murid melalui metode role playing (bermain peranan) ini, setelah dramatisasi itu dilaksanakan, guru mengadakan diskusi dengan murid secara keseluruhan tentang topik dan pelaksanaan drama tadi. Dengan demikian, kognisi dan psikomotor murid secara keseluruhan dapat pula ditingkatkan melalui bimbingan drama tersebut. Jadi, dramatisasi dan permainan peranan itu menjadi lebih bermakna sebagai suatu metode interaksi edukatif yang lebih terpadu. Pada kesempatan ini, guru dan murid tetap melakukan pembinaan konsep dan pengembangan generalisasi sampai kepada menarik kesimpulan-kesimpulan tentang sosiodrama dan bermain peranan tadi.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006:88) mengemukakan pendapatnya mengenai metode role playing, yaitu, “Metode sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama artinya, dan dalam pemakainannya sering disilihgantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.”

Adapun Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya (1997:81) memberikan pendapatkan tentang metode role playing, yaitu, “Suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang, seperti yang dilakukan dalam hubungan sosial sehari-hari dalam masyarakat.”

Metode role playing (bermain peranan) dalam proses belajar mengajar digunakan:
  1. Apabila kita ingin menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, kita beranggapan lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan karena akan lebih jelas.
  2. Apabila kita ingin melatih anak-anak agar mereka dapat menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat sosial psikologis.
  3. Apabila kita akan melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya. (Nana Sudjana, 2005:84-85).
Salah satu tugas guru adalah membantu anak didik untuk bisa berlaku sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain. Berbagai bentuk permainan, cerita-cerita sejarah, biografi maupun cerita-cerita yang lain dapat membantu anak didik untuk mencapai keterampilan tersebut.
Bercerita tentang apa yang dirasakan orang lain kadang-kadang ada manfaatnya. Guru yang telah berhasil menggunakan sosiodrama akan beranggapan bahwa metode tersebut lebih baik dibanding metode-metode yang lain.

Petunjuk pelaksanaan role playing antara lain:
  1. Berikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih peranannya sendiri. Mereka akan memerankannya dengan lebih baik apabila mereka sendiri yang memilih bagiannya. Apa yang telah dipilih barangkali mempunyai arti tersendiri bagi dirinya.
  2. Di dalam melaksanakan kegiatan sosiodrama yang pertama kali sebaiknya guru juga mengambil sesuatu peran. Tindakan ini bisa menambah kegairahan anak untuk bermain peranan (role playing).
  3. Diskusikan terlebih dahulu situasi yang akan dimainkan, tetapi jangan sampai membatasi anak didik tentang apa yang akan diutarakan dan bagaimana mereka menghayati perannya. Biarkan anak didik menentukan sendiri.
  4. Usahakan situasi benar-benar jelas dan terang.
  5. Diskusikan pelaksanaan sosiodrama tersebut. Diskusi bisa dimulai dari aktor atau aktris itu sendiri, bagaimana perasaan mereka setelah bermain.
  6. Ulangi situasi tersebut, baik dengan bercerita yang sama maupun tidak.
  7. Upayakan agar semua pihak bisa mengambil peranan.
Harap diingat bahwa guru jangan terlalu banyak memberikan aturan-aturan permainan. Sebaliknya, guru justru memberikan kebebasan sepenuhnya kepada para siswa. Jika hal itu benar-benar dilaksanakan, maka situasi sosial yang didramatisasikan akan serupa benar dengan kejadian yang sesungguhnya. Hal itu akan sangat menguntungkan bagi para siswa yang menjadi penonton (sekaligus sebagai penilai).
Dalam penggunaan metode role playing ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil, antara lain:

Guru
Guru tidak boleh bersikap apriori. Setiap individu akan menghayati situasi sosial menurut caranya sendiri. Apa yang akan ia lakukan, keputusan apa yang akan ia pilih jika ia berada dalam situasi sosial seperti itu, semua harus diserahkan kepada pemeran yang bersangkutan.

Siswa
Dramatisasi ini akan berhasil kalau para siswa yang berperan dapat menjiwai situasinya, dapat bertingkah laku dan bersikap seperti dalam situasi sosial yang sesungguhnya.

Bahan
Sesuatu yang didramatisasikan akan baik hasilnya, jika bahan itu cocok dengan para pemeran yang akan memerankannya. Bahan harus dipilih dengan cermat. Kriteria yang harus diperhatikan antara lain:
  1. Bahan harus sesuai dengan perkembangan jiwa siswa.
  2. Bahan harus memperkaya pengalaman sosial siswa.
  3. Bahan harus cukup mengandung sikap dan perbuatan yang akan didramatisasikan siswa.
  4. Bahan hendaknya tidak mengandung adegan-adegan yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, agama, kepribadian bangsa Indonesia.

Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi edukatif antara guru dan anak didik, ketika guru menyampaikan bahan pelajaran kepada anak didik di kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberikan dorongan (motivasi) kepada anak didik apabila penyampaiannya menggunakan strategi yang kurang tepat. Di sinilah kehadiran metode menempati posisi penting dalam penyampaian bahan pelajaran.

Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justru akan mempersulit bagi guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan pengajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran. Karena itu, dapat dipahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategisnya adalah metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar dilaksanakan di kelas.

Pada kelas-kelas permulaan, diperlukan aktivitas yang pada umumnya bertumpu pada bahan-bahan bukan bacaan. Dalam hal ini penyelenggaraan sinau wisata mempunyai kedudukan tinggi dalam proses belajar mengajar. Dramatisasi secara sederhana ternyata sangat berguna untuk memberikan kesempatan kepada mereka memperagakan pengalaman belajarnya. Peragaan dan permainan memang dirasakan dapat membantu banyak. Membacakan bahan kepada seluruh anak di kelas secara jelas merupakan aktivitas utama dari proses belajar mengajar pada kelas-kelas ini. Demikian juga halnya dengan aktivitas penyusunan bagan oleh anak didik bersama-sama guru hendaknya seringkali digunakan.

Role playing atau sosiodrama adalah permainan yang dilakukan oleh anak didik tentang satu situasi. Kegiatan tersebut biasanya spontan tanpa dipersiapkan atau dilatih terlebih dahulu. Kegiatan tersebut dilaksanakan tanpa menggunakan kostum atau naskah cerita tertentu. Latar belakang dari sesuatu situasi didiskusikan dan kemudian bagian-bagian yang ada diseleksi. Biasanya anak didik memilih di antara beberapa topik yang diberikan kepada mereka. Naskah pendek yang dibawakan biasanya sudah mengandung situasi permasalahan. Dan sesudah sosiodrama berlangsung masing-masing individu mendiskusikan bagaimana perasaan-perasaan mereka.

Metode role playing atau sosiodrama ini digunakan apabila:
  1. Keterangan secara lisan tidak dapat menerangkan pengertian yang dimaksud.
  2. Memberikan gambaran mengenai bagaimana orang bertingkah laku dalam situasi sosial tertentu.
  3. Memberikan kesempatan untuk menilai atau memberikan pandangan mengenai suatu tingkah laku sosial menurut pandangan masing-masing.
  4. Belajar menghayati sendiri keadaan “seandainya saya berada dalam situasi sosial seperti yang dialami sekarang ini (yang disosiodramakan).”
  5. Memberikan kesempatan untuk belajar mengemukakan penghayatan sendiri mengenai suatu situasi sosial tertentu dengan mendramatisasikannya di depan penonton dan bu  kan memberikan keterangan secara lisan.
  6. Memberikan gambaran mengenai bagaimana seharusnya seseorang bertindak dalam suatu situasi sosial tertentu. Abu Ahmadi, dan Joko Tri Prasetya, 1997:82).
Metode memainkan peran tokoh masyarakat (sociodrama), sangat efektif untuk menanamkan pengertian-pengertian tentang kehidupan sosial yang sangat asing bagi siswa. Dengan peran spontan ini seakan-akan anak benar-benar menghayati dunia yang baru saja diperkenalkan kepadanya.

Sedangkan materi bahasa Inggris yang dapat dipetaskan melalui metode role playing ini, misalnya naratif. Dalam pelaksanaannya siswa secara berkelompok diminta untuk menentukan tema cerita yang akan dipentaskan, misalnya: Cinderella, Malin Kundang, Snow White, dan sebagainya. Kemudian membuat teks (naskah drama) dan mempelajarinya secara seksama. Sebelum diadakan pementasan akan lebih baik apabila dilakukan latihan-latihan, sehingga pada saat tampil sudah dalam keadaan perfect.

Berdasarkan penjelaskan di atas, dapat diketahui bahwa metode role playing yang dipergunakan secara baik dan tepat oleh guru dalam proses belajar mengajar rupanya mempunyai peranan dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa.

Tips Cara Penyusunan Soal

Penilaian pendidikan merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar siswa. Dilihat dari sudut pelaksanaan standar kegiatan ini merupakan cara untuk memetakan kinerja siswa dalam memenuhi kriteria ketuntasan minimum.Sukses penilaian bergantung pada tiga faktor utama, yaitu instrumen, pelaksana tugas, dan cara melakukan penilaian. Kualitas instrumen penilaian bergantung pada terpenuhinya kaidah yang berisi sejumlah indikator kualitas soal yang penyusun terapkan pada saat instrumen disusun.

Gambar Ilustrasi
Di samping kaidah penyusunan, kebervariasian jenis penilaian juga dapat meningkatkan mutu keterukuran kompetensi siswa. Ada beberapa jenis penilaian kelas, yaitu ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ulangan kenaikan kelas, ujian sekolah dan ujian nasional. Sedangkan dari segi teknik, penilaian dapat dilakukan melalui tes (tulis dan non tulis) dan non tes (portofolio, performance/kinerja, produk, project) . Penilaian tes secara tertulis dapat berupa soal objektif dan soal subjektif.

Tes objektif merupakan tes yang terdiri dari item-item yang dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatif jawaban tersedia atau mengisi jawaban yang benar. Contoh jenis soal objektif di antaranya pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes uraian adalah tes yang terdiri dari pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban berupa uraian-uraian yang relatif. Sebagai contoh jenis soal subjektif adalah isian singkat dan uraian.

Masing-masing bentuk soal memiliki kaidah, keungulan dan kelemahannya. Tes bentuk uraian memberikan siswa kebebasan memilih dan membentuk jawaban, lebih unggul dalam cakupan materi, serta lebih mengungkap aspek kognitif dengan tingkat yang lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa. Sedangkan tes bentuk objektif menampilkan keseragaman data, di mana tingkat subjektifitas penilaian lebih rendah dibandingkan tes obyektif.

Secara umum, tentu guru sudah memahami seperti apa kaidah dalam menyusun soal, namun tidak ada salahnya jika kita angkat kembali di guru pembaharu sebagai bahan refleksi apakah penyusunan soal yang dilakukan saat ini sudah memenuhi kaidah dan prinsip yang berlaku. Dalam menyusun soal, guru perlu memegang sembilan prinsip penilaian yang tertuang dalam Permendiknas RI No. 20 Tahun 2007, yaitu :
  1. Sahih : didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan siswa
  2. Objektif : ada prosedur dan kriteria yang jelas
  3. Adil : penilaian dilakukan sama tanpa memandang SARA dan gender
  4. Terpadu : menjadi kompenen tidak terpisahkan dari pembelajaran
  5. Terbuka : prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan bisa diketahui oleh siapa saja
  6. Menyeluruh dan berkesinambungan : mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian
  7. Sistematis : dilakukan secara berencana dan bertahap
  8. Beracuan kriteria : ada ukuran pencapaian kompetensi
  9. Akuntabel : penilaian dapat dipertanggungjawabkan
Syarat mutlak bagi penyusun soal adalah memahami dan menguasi materi pelajaran yang akan diujikan. Setelah itu, guru sebagai penyusun soal perlu mentransfer gagasan yang ia miliki ke dalam soal dengan bahasa yang verbal, lugas, tidak berbelit-belit sehingga mudah dipahami oleh siswa.
Secara umum kaidah penyusunan soal adalah sebagai berikut :
  • Petunjuk pengerjaan dan rumusan soal harus jelas dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  • Rumusan soal harus sesuai dengan indikator;
  • Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya;
  • Rumusan soal tidak boleh mengandung petunjuk (clue) kepada kunci jawaban;
  • Materi soal harus sesuai dengan jenjang/jenis pendidikan atau tingkatan kelas; dan
  • Rumusan soal harus mempertimbangkan tingkat kesulitan soal.
Sedangkan kaidah penyusunan untuk masing-masing bentuk soal, objektif dan subjektif, dapat dilihat di bawah ini :

NoBentuk SoalKaidah Penyusunan Soal
1Benar-Salah(1) hindari pertanyaan yang mengandung kata
kadang-kadang, selalu, umumnya, sering kali,
tidak ada, tidak pernah, dan sejenisnya
(2) hindarkan pengambilan kalimat langsung
dari buku pelajaran
(3) hindarkan pernyataan yang merupakan
pendapat yang masih bisa diperdebatkan
kebenaranya
(4) hindarkan penggunaan pernyataan negatif
ganda
(5) usahakan agar kalimat untuk setiap soal
tidak terlalu panjang
(6) gunakan kalimat perintah yang jelas agar
mudah dimengerti oleh siswa
2Menjodohkan(1) hendaknya materi yang diajukan berasal
dari hal yang sama sehingga persoalan yang
ditanyakan bersifat homogen
(2) usahakan agar pertanyaan dan jawaban
mudah dimengerti
(3) jumlah jawaban hendaknya lebih banyak
dari pada jumlah soal
(4) gunakan simbol yang berlainan untuk
pertanyaan dan jawaban
(5) susunlah soal menjodohkan dalam satu
halaman yang sama
3Pilihan Ganda(1) soal harus sesuai dengan indikator
(2) pilihan jawaban harus homogen dan logis
(3) hanya ada satu kunci jawaban yang paling
benar
(4) pokok soal harus dirumuskan dengan jelas,
singkat, dan tegas
(5) rumusan pokok soal dan pilihan jawaban
harus merupakan persyaratan yang diperlukan
(6) pokok soal jangan memberikan petunjuk
ke kunci jawaban
(7) pokok soal tidak menggunakan pernyataan
yang bersifat negatif ganda
(8) gambar/grafik/ tabel/ diagram/ dan sejenisnya
jelas dan berfungsi
(9) panjang rumusan jawaban relatif sama
(10) pilihan jawaban jangan menggunakan
pernyataan”semua jawaban di atas salah” atau
”semua jawaban di atas benar” dan sejenisnya
(11) pilihan jawaban yang berbentk angka atau
waktu harus disusun berdasarkan urutan besar
kecilnya angka atau secara kronologis
(12) butir soal jangan bergantung pada jawaban
soal sebelumnya
(13) menggunakan bahasa yang sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia
(14) pilihan jawaban tidak mengulang kata
kelompok kata yang sama
4Isian(1) Jawaban yang dituntut oleh oleh butir soal
harus singkat dan pasti, dapat berupa kata, frase,
angka, simbol, tahun, atau nama tempat, nama
tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti
(2) Rumusan butir soal tidak merupakan kalimat
yang dikutip langsung dari buku.
5Uraian(1) Batasan pertanyaan dengan jawaban yang
diharapkan harus jelas
(2) Rumusan kalimat butir soal harus
menggunakan kata tanya atau perintah yang
menuntut jawaban uraian.

Dengan mempertimbangkan keunggulan masing-masing bentuk soal dan kaidah penyusunannya, diharapkan tercipta perangkat soal yang mampu mengukur sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang ia pelajari. Perangkat soal sebagai salah satu alat evaluasi diharapkan dapat mengungkap semua domain, terutama aspek kognitif (ingatan) siswa. Alat evaluasi jangan hanya berfungsi sebagai sumatif, tetapi juga sebagai sarana peningkatan motivasi belajar.

Trending Template

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PGSDADIBUANA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger